Oleh-Oleh Khas Bandung
Ide Usaha

Tempe Gila Oleh-Oleh Khas Bandung Untuk Sesajen Tuyul

Oleh-Oleh Khas Bandung

Tempe Gila Oleh-Oleh Khas Bandung untuk Sesajen Tuyul

Oleh-oleh khas Bandung saat ini sangat bervariasi dari bentuk, tampilan dan rasa yang ditawarkan. Dari sisi asal-muasal secara umum, oleh-oleh khas Bandung ini dapat dibagi menjadi dua jenis. Dua jenis itu ialah berasal dari budaya yang sudah ada (Budaya Sunda) dan berasal dari budaya baru yang timbul sekarang-sekarang ini (budaya anak zaman now). Dari sisi bentuk, oleh-oleh khas bandung ini ada dua jenis yaitu berbentuk makanan dan berbentuk non-jenis makanan. Untuk jenis makanan pun dibagi menjadi dua yaitu makanan khas bandung dan makanan yang populer di bandung.

Oleh-Oleh Makanan Khas Bandung

Oleh-oleh Bandung berbentuk makanan ada yang berasal dari makanan khas sunda dan berasal dari daerah lain. Makanan khas bandung yang berasal dari makanan khas sunda antara lain colenak, ciu, awug, katimus, dorokdok, gorengan tempe, gepuk, oncom, cireng, surabi, bajigur, bandrek. Setidaknya itu makanan-minuman yang saya tahu dan saya inget saat ini (itu makanan yang saya makan saat kecil – apabila ada makanan khas sunda atau makanan khas bandung yang kelewat tulis dikomen ya). Saat ini makanan-makanan khas sunda tersebut telah di packaging sebagai oleh-oleh khas bandung yang mudah dibawa dan tahan lama. Hal ini juga yang dilakukan oleh Tempe Gila yang merupakan variasi makanan gorengan tempe (tempe goreng tepung) yang dikreasikan dengan rasa pedas dari cabe yang bubuk cabe kering.

Sedangkan ada juga makanan khas bandung yang bukan berasal dari makanan khas sunda tetapi memang hasil kreasi orang bandung walaupun mungkin “sanes urang sunda” (bukan orang sunda). Beberapa telah bertahan sekian lama dan menjadi icon oleh-oleh khas bandung, yaitu bollen (saya mah bilangnya molen, yang bener yang mana sih), brownies, klapertart (perasaan ieu khas walanda), dan picnic roll.

Oleh-Oleh Bandung Non-Makanan

Sedangkan oleh-oleh bandung non makanan yang berasal dari budaya sunda antara lain angklung, wayang golek, pangsi (pakaian khas sunda), kebaya sunda dan kerajinan berupa senjata kujang yang merupakan senjata khas sunda. Untuk yang bukan khas sunda, malah yang paling polpuler adalah kaos , jeans dan pakaian-pakain custom yang nyebar di FO diseluruh wilayah bandung. Untuk celana jeans, cihampelas adalah tempatnya. Sampai-sampai ada anekdot bahwa di Bandung itu penuh dengan Jin (Jeans).

Kelebihan dan Keunggulan Oleh-Oleh Khas Bandung Saat Ini

Sekarang pertanyaannya apa kelebihan dan keunggulan oleh-oleh khas bandung saat ini?. Benar sekali jawabannya, jawabannya adalah up to date dan selalu ada yang baru (anggap ada yang jawab dan jawabannya sama). Itulah mungkin kelebihannya orang Bandung, kreatif, sehingga selalu bisa menghasilkan hal-hal yang baru yang sebelumnya tidak terpikir oleh kita. Seperti Batagor (Baso Tahu Goreng) itu kan idenya ada baso tahu (Siomay kalo diJakarta) terus digoreng, jadi deh. Sekarang idenya berkembang menjadi Basreng (baso goreng) dengan mengusung ide yang sama. Brownies yang biasanya dibakar ini dikukus jadilah Brownies kukus.

Namun kadang ada beberapa ide baru yang menurut saya “aneh”, contohnya seblak yang saya tahu, dulu awal-awalnya seblak itu hanya berasal dari krupuk. Krupuk itu identik dengan ‘kriuk’nya, eh sekarang malah bukan di goreng tapi ditumis (bener ya ditumis?) dan kasih bumbu. Aneh kan? Sekarang divariasi dengan yang aneh-aneh (ceker, makroni dll). Ini kegemaran dan istri saya, yang saya sampai saat ini mencicipinya aja males. Kemudian cireng, yang sekarang ini punya banyak ragam dalam isinya dari yang tradisional sampai yang modern (maksudnya isi kacang sampai isi keju). Untuk gorengan tempe sih masih mending hanya divariasikan dengan bumbu seperti Tempe Gila yang diberi variasi bumbu pedas dan pedas banget.

Bagi yang bertanya-tanya mana nih tuyulnya, nih video tuyulnya:

Kekurangan dan Kelemahan Oleh-Oleh khas Bandung Saat Ini

Kekurangan oleh-oleh bandung sat ini menurut saya telah kehilangan jati diri sundanya. Jadi saat ini oleh-oleh dari bandung terlalu mengikuti trend pasar dan terkesan ingin modern. Jadi bukan menjadi trend setter lagi tetapi lebih ke populis. Salahkah itu? Ya tentu saja tidak kan semua ujung-ujungnya bisnis. Saya mengkhayalkan bahwa suatu saat nanti ada batagor rasa red velvet hehehehe. Supaya lebih mewah dan premium, nanti cireng isinya berupa caviar. Baso tahu yang biasa rasa ikan tenggiri menjadi rasa ikan salmon. Jadi saya rasa Tempe Gila ini masih mempertahankan jati diri urang bandung dengan memberikan variasi rasa pedas saja. Tolong diusulin bunda ke temennya itu, mungkin bisa dijuga divariasikan dengan rasa rendang, barbequ dan keju. Ada juga kreasi yang tidak kreatif dan buat bingung saya aja, apa misalnya mie rasa spagheti, cilok rasa baso, dan baso tahu rasa dimsum.

Dibandung itu semua jenis makanan ada, dari makanan yang emang enak untuk dimakan sampai dengan makanan yang kalo kita lihat kita bertanya “itu makanan?. Saat ini oleh-oleh khas Bandung yang bahkan orang bandungnya aja sendiri heran kok bisa makanan itu jadi oleh-oleh bandung. Contohnya adalah kue si tuan putri, kok bisa ya jadi oleh-oleh khas bandung. Saya pribadi heran, kok bisa kue itu khas bandung, khas Bandungnya dari mananya ya?.

Lain masalah dengan oleh-oleh khas Garut yaitu dodol Garut. Saat ini dodol Garut yang diberi rasa-rasa kayak coklat dan sebagainya, itu masih ok lah karena masih dianggap variasi dari dodol garut. Bakpia isi yang aneh-aneh seperti greenntea juga masih ok karena masih dianggap variasi. Nah kue si putri itu variasi dari apa? Apakah kue yang rasa batagor atau kue kriuk seperti gorengan tempe?. Ya sudahlah, mungkin marketingnya sudah level dewa. Apa itu marketing tingkat dewa, yaitu marketing yang mampu menjual barang gak diperlukan kepada orang yang bener-bener gak butuh barang itu dengan harga mahal TANPA PAKSAAN. Itulah dewa marketing. Kalo dengan unsur paksaan namanya PEMERASAN bukan PEMASARAN. INGAT ITU. Pejabat-pejabat nih yang sering lupa bedanya.

Masa Depan Penjualan Oleh-Oleh Khas Bandung

Saya memprediksi bahwa persaingan oleh-oleh khas bandung ini akan semakin ketat. Baik persaingannya didunia nyata maupun persaingan didunia ghaib (online maksudnya). Berdasarkan pengalaman saya melanglang buana dalam menghabiskan honor narsumber/moderator untuk membeli oleh-oleh ini diberbagai kota dalam dan luar ngeri serta luar angkasa. Dan hasil diskusi beberapa konsumen setia, siapa lagi kalo bukan istri dan anak saya, untuk memenangkan persaingan pemasaran oleh-oleh khas Bandung ini, menurut saya minimal ada 5 syarat yang harus dipenuhi.

Kualitas Oleh-Oleh Khas Bandung

Tigas syarat pertama dan utama adalah kualitas, kualitas dan kualitas. Benar kualitas dari produk oleh-oleh khas Bandung tersebut yang menjadi konsideran utama. Segencar apapun promosi yang ada, apabila kualitas produk tidak bagus, promosi akan percuma. Minimal akan rame sasat tetapi tidak everlasting seperti model rambut tengah saya. Kalau kualitas produknya bagus, meskipun tanpa promosi pada akhirnya produknya akan terkenal juga (cuma lama, cape kan takutnya seperti nyonya meneer yang berdiri terus sejak 1912 akhirnya duduk juga tahun ini), seperti cheesecake Cizz yang kemarin saya ulas.

Dengan mengambil istilah Mas Berto SB1M (Pemilik Rumah Makan Bebek Ginyo-Tebet), jadi promosi ini akan memperkecil “danger zone” suatu produk. Maksud dari danger zone adalah masa dimana modal untuk jualan masih lebih gede dibandingkan dengan hasil penjualannya. Kalo survive di danger zone ini, selebihnya tinggal menikmati hasilnya. Tapi sesudah danger zone belum berarti telah mencapai Break Even Point (BEP) ya, kasarnya sudah untung tapi belum balik modal. Untuk melewati zona ini butuh perjuangan, kerja keras air mata dan modal. Jadi bagaimana melewati zona ini kalau modalnya cekak seperti saya, inilah salah satu guna blog ini yaitu memberi tips dan trik supaya selamat sentausa melewati “danger zone”.

Harus Bener-Bener Oleh-Oleh Khas Bandung

Syarat kedua eh keempat ya adalah produknya memang khas daerah itu. Supaya usaha usaha kita everlasting (kalo lagu itu lagu klasik/lagu memori yang dari dulu sampai sekarang enak terus itu lagu), kita harus jual produk khas yang apabila nenek buyut kita ditanya apa oleh-oleh di daerah tertentu jawabannya sama. Misalnya makanan khas semarang pasti lumpia dan wingko, yogya pasti bakpia dan gudeg, nah bandung itu yang terkenal (dari) dulu peuyeum, dan lain-lain dan tentu saja gorengan tempe (titipan sponsor). Kalo tidak khas biasanya hanya populer sesaat saja, dan selanjutnya orang beli karena alasan nomor satu tadi, yakni kualitas. Jadi balik lagi ke nomor satu kualitas.

Cara Promosi Oleh-oleh Khas Bandung

Syarat terakhir adalah strategi pemasaran dengan promosi jemput bola. Jadi mau tidak mau promosi jemput bola ini penting untuk dilakukan. Promosi ini bukan mendatangi promosis satu per satu door to door. Itu mah kuno, ini zaman now mas bro. Maksud promosi jemput bola ini adalah promosi yang mendekatkan produknya kepada (calon) konsumen. Misalnya dengan memanfaatkan momen kesadaran masyarakat tentang kesehatan yang meningkat. Kita bisa menjelaskan misalnya Tempe Gila ini digoreng hanya dengan minyak goreng murni untuk beberapa kali goreng saja (sesuai standar industri makanan). Jadi kita beli gorengan tempe yang didapat ya gorengan tempe-nya saja jangan dikasih bonus penyakit kanker atau bau tengi. Contoh lain untuk gudeg jogja, misalnya kita menjelaskan bahwa proses pembuatannya lama jadi orang aware bahwa untuk membuat gudeg berkualitas itu butuh proses yang tidak sebentar, sehingga kalo mahal-mahal dikit mah wajar atuh.

Jadi karena Produsen Tempe Gila ini adalah temen istri di sekolah anak saya. Maka istri didorong (diangkat mah berat) menjadi saya re-seller dan anak saya brand ambasaddor Tempe Gila ini (keren ya brand ambassador, padahal aslinya pengen makan Tempe Gila gratis dan yang ngangkat siapa). Jadi yang mau pesan via WA silahkan KLIK DISINI. Kalau belum dijawab berarti lagi nyetir nganter anak sekolah (atau lagi asyik ngegosip dengan temannya). Kalau gambar profile-nya bukan gambar tempe tapi gambar kebaya itu karena istri saya itu emang produsen kebaya premium. Bahas lagi sedikit tentang marketing level dewa, ternyata anak saya (AA Fathir) sudah punya bakat marketing level dewa tersebut. Masa dia menawarkan Tempe Gila ke anak temen istri saya yang produsen Tempe Gila-nya itu sendiri. Kalo berhasil anak saya marketer level dewa. Berhasil gak bund?, kalo berhasil saya gak usah sekolah marketing online lagi.

Demikian uraian saya tentang oleh-oleh khas bandung. Semoga bermanfaat.

My Blog, My Words, My Adventures.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *